Jl. Ki Kuwu No. 02 Desa Gegesikkulon, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon. Kode Pos 45164

Selasa, 29 Maret 2016

Sejarah Desa Gegesikkulon

Sejarah Desa Gegesikkulon

Pangeran Gesang/Ki Gede Gesik berkedudukan di Gesik-Tengah Tani mempunyai tiga anak laki-laki dan satu orang anak perempuan yaitu Ki jagabaya, Ki Sumerang, Ki Baluran dan Nyi Mertasari. Ketika menginjak dewasa, keempat anak itu meminta untuk menguasai tanah cakrahan yang dimiliki ayahnya jauh sebelum dilaksanakan babad hutan. Atas permintaan anak-anaknya itu Ki Gede Gesik mengadakan perundingan dengan Ki Kutub (Sunan Gunung Jati) dan Ki Sangkan (Ki Kuwu Cerbon) yang hasilnya diterima dan disetujui bersama. Ki Gede Gesik selanjutnya memerintahkan keempat anaknya untuk membagi tanah cakrahan miliknya yang terletak di bagian utara perbatasan tanah Cirebon disertai seorang utusan Ki Kutub yang bernama Ki Warga asal Danalaya, guna menyaksikan dan memberikan pertimbangan dalam pembagian tanah itu. Setelah sampai di tanah cakrahan yang akan dibagikan, mereka menemui jalan buntu karena ketiga anak laki-laki mempunyai pendirian yang bertentangan dengan saudaranya yang perempuan. Ketiganya berpendirian bahwa pembagian untuk anak laki-laki harus berbeda dengan anak perempuan. Anak perempuan cukup mendapat bagian tanah sebesar payung. Tentu saja pendirian ketiga saudaranya itu ditentang Nyi Mertasari, karena menurutnya pembagian harus sama luas. Pertentangan pendapat ini cukup memakan waktu lama dan kecil harapan dapat diselesaikan, sedang Ki Warga sendiri tidak sanggup mengatasainya. Oleh karena cukup lama tidak ada kabar berita, Ki Kutub sangat khawatir akan keselamatan Ki Warga dan selanjutnya memerintahkan Ki Panunggul asal Pajajaran menyusul ke tanah cakrahan untuk mengetahui keberadaan mereka. Setelah mendapat keteragan Ki Warga bahwa pembagian tanah cakrahan belum terlaksana bahkan menimbulkan percekcokan, Ki Panunggul membuat kebijakan dengan mengadakan sayembara yang diterima semua pihak dimana Ki Panunggul bertindak sebagai juri dan Ki Warga saksi. Dikatakan oleh Ki Panunggul kepada mereka bahwa “ barangsiapa diantara mereka dapat menadatangkan jenis-jenis hewan isi hutan, maka tanah cakrahan ayahnya seluruhnya menjadi miliknya”. Berturut-turut sayembara dimulai dari Ki Jagabaya dan terakhir Nyi Mertasari.
1.KI JAGABAYA:Dalam waktu sekejap dapat menghadirkan kuda ekor panjang berkerocok baja, dan seekor anjing berbulu tebal.
2.KI SUMERANG:Setelah tangannya menepak air sungai tiba-tiba menjadi kering (Kaliasat) dan muncul buaya putih yang cukup besar.
3.KI BALURAN:Dengan tusukan jarinya ke dalam tanah muncullah seekor ular yang besar seperti pohon kelapa.
4.NYI MERTASARI :Menunjukan tangannya ke kanan dan ke kiri dengan menyebut banteng, singa, macan, badak, maka berdatanganlah binatang-binatang yang disebutnya itu. Selesai melakukan sayembara, Ki Panunggul selaku juri melakukan penilaian seperti berikut:
1.Hasil Ki Jagabaya Kuda berekor panjang dan anjing berbulu tebal tidak dianggap hewan isi hutan melainkan hewan piaraan.
2.Hasil Ki Sumerang: buaya putih yang tidak kecil dianggap hewan laut.
3.Hasil Ki Baluran: ular sebesar pohon kepala dianggap hewan biasa dan terdapat di mana-mana
4.Hasil Nyi Mertasari: banteng, macan, singa dan badak dinyatakan benar tempatnya di hutan dan Nyi Mertasari dinyatakan sebagai pemenang sayembara.
Atas kemenangannya itu, seluruh tanah cakrahan dinyatakan sebagai hak milik Nyi Mertasari, sedang ketiga saudaranya tidak mendapat kekuasaan/hak atas tanah ayahnya itu sedikitpun. Setelah pernyataan dan penyerahan tanah pada Nyi Mertasari, Ki Panunggul bersama Ki Warga pulang untuk menyampaikan laporan kepada Ki Kutub mengenai segala sesuatu yang terjadai pada pembagian tanah cakrahan Ki Gede Gesik, sejak menemui jalan buntu hingga akhirnya diselenggarakan sayembara yang diterima dengan baik oleh Ki Kutub. Ketiga anak laki-laki yang gagal/kalah dalam sayembara merasa menyesal dan kecewa (sesudah ditinggalkan Ki Panunggul dan Ki Warga). Tidak lama kemudian datanglah Ki Warsiki dari Kedungdalem menghampiri ketiganya dan menanyakan mengapa mereka terlihat gundah, murung dan sedih. Pertanyaan Ki Warsiki dijawab dengan terus terang, dan diceritakan oleh ketiga anak laki-laki Ki Gede Gesik itu dari awal sampai akhir. Setelah Ki warsiki mengetahui duduk persoalannya, ia menyarankan agar ketiga anak itu segera menghadap Ki Kutub supaya bersedia meninjau kembali keputusan sayembara yang dilakukan Ki Panunggul. Saran Ki Warsiki diterima baik, akan tetapi mereka tidak berani langsung menghadap Ki Kutub. Mereka akhirnya meminta bantuan dan pertolongan Ki Warsiki untuk menghadap Ki Kutub menyampaikan ketidakpuasan atas hasil sayembara Ki Panunggul. Ki Warsiki menyatakan bersedia dan sanggup menghadap Ki Kutub, ia meminta diberi bagian tanah cakrahan sebagai tanda jasa. Dengan penuh keyakinan Ki Warsiki pergi menghadap Ki Kutub. Sesampainya di Keraton, ia menyampaikan maksud kunjungannya dan menceritakan ketidakpuasan ketiga anak Ki Gede Gesik dalam pembagian tanah cakrahan dengan cara sayembara dan meminta pertimbangan Ki Kutub supaya meninjau kembali keputusan Ki Panunggul. Ki Kutub menyatakan bahwa hal itu bisa saja dilakukan, asalkan Nyi Mertasari sebagai pemenang tanpa paksaan bersedia berunding. Bukan main gembiranya Ki Warsiki setelah mendengar jawaban Ki Kutub. Kemudian Ki Warsiki menemui Nyi Mertasari dan membujuknya supaya mau berunding kembali bersama ketiga saudaranya dalam persoalan keputusan sayembara. Atas pengaruh Ki Warsiki, Nyi Mertasari Menyatakan kesediaannya untuk meninjau kembali keputusan hasil sayembara, dan akhirnya Nyi Mertasari memberikan sebagian tanah cakrahan kepada saudara-saudaranya dan ia menentukan sendiri batas-batas tanah yang diberikan kepada ketiga saudaranya itu. Ki Jagabaya diberi tanah bagian sebelah utara, Ki Sumirang bagian selatan, Ki Baluran bagian barat laut, dan sisanya yang berada ditengah-tengah adalah bagian Nyi Mertasari sendiri. Setelah pembagian tanah dapat diselesaikan dan diterima semua pihak, mereka kemudian berunding kembali dan menetapkan Ki Jagabaya sebagai Ki Gede Jagapura, Ki Sumirang sebagai Ki Gede Bayalangu, Ki Baluran sebagai Ki Gede Guwa dan Nyi Mertasari sebagai Nyi Gede Gesik. Ditetapkan pila Nyi Gede Gesik Sebagai pemimpin daerah itu, karena keunggulannya dalam sayembara. Sesuai dengan janji untuk memberikan tanda jasa, Ki Gede Jagapura memberi tanah yang terletak di sebelah selatan jagapura blok situnggak. Ki Gede Bayalangu memberi tanah di blok sikacang, dan Nyi Gede Gesik walaupun tidak menjanjikan memberi tanah juga di blok sijinten. Adapun Ki Gede Guwa tidak memberi tanah, karena letaknya terlalu jauh. Sebagai gantinya Ki Warsiki meminta supaya Ki Gede Guwa bersedia memikul kebutuhan adat penduduk kedungdalem berupa gamelan panggung. Oleh karena itu hingga sekarang terdapat tanah bagian kedungdalem yang terpisah dari tanah kedungdalem, yaitu blok situnggak, sikacang, sijinten, dan blok panggung wayang. Nyi Gede Gesik meskipun seorang wanita akan tetapi besar sekali hasratnya untuk menguasai tanah, hingga mengadakan perluasan dengan menebang hutan yang berada di tepi pantai sebelah timur laut dari daerahnya yaitu di daerah luwung (leuweung/hutan) Gesik (sekarang terletak dikecamatan krangkeng kabupaten Indramayu). Setelah Ki Kutub mengetahui Nyi Gede Gesik Bermaksud menguasai Luwung Gesik, ia melarangnya. Menurut Ki Kutub tanah itu khusus disediakan untuk para dedemit dan siluman. Oleh karena itu Nyi Gede Gesik tidak jadi melakukan perluasan. Ki Panunggul sangat tertarik akan kecantikan Nyi Gede Gesik, dan bermaksud ingin menjadikannya istri. Atas saran Ki Warga, Ki Panunggul menemui Ki Lebe Embat-embat untuk menikahkannya, akan tetapi Ki Lebe tidak bisa memenuhinya dan disarankan untuk menemui Ki Lebe Bakung, kemudian Ki Lebe Bakung bersama Ki Panunggul berangkat menuju Gesik untuk melaksanakan perkawinan dengan Nyi Gede Gesik. Dari perkawinan dengan Ki Panunggul Nyi Gede Gesik Mempunyai keturunan dua orang. Anak laki-laki diberi nama Raja Pandita, dan yang wanita tidak disebut namanya. Raja Pandita setelah dewasa disayangi oleh Ki Sangkan dan ditugaskan menjaga keamanan di daerah ibunya. Adapun anak wanita disayangi oleh ki Lebe Bakung, dan karena sayangnya Ki Lebe Bakung meminta pertimbangan pada Ki Warga untuk meniokahinya. Sambil tersenyum ki Warga mengatakan kepada Ki Lebe Bakung demikian “kapi asem temen apa ora lingsem pas ngawinaken m’boke, anake arep dikawin dewek”. Karena kata-kata itu Ki Lebe Bakung selanjutnya disebut Ki Lebe Asem. Pada akhirnya terlaksana juga perkawinan dengan anak perempuan Nyi Gede Gesik tersebut. Dari perkawinan ini Ki Lebe Asem mempunyai keturunan dua orang anak laki-laki. Setelah dewasa kedua anak ini meminta orang tuanya untuk dapat menguasai daerah kekuasaan. Atas saran Ki Warga, tanah kekuasaan Nyi Gede Gesik dibagi dan diserahkan kepada kedua cucunya itu.
•Bagian dearah Karadenan kemudian menjadi Gegesik Kidul •Bagian daerah Ketembolan kemudian menjadi Gegesik Lor Oleh karena itu Ki Lebe Asem mempunyai putra lagi sebanyak dua orang, tanah Nyi gede Gesik dibagi menjadi dua itu kemudian masing-masing dibagi dua bagian lagi. Keradenan (GegesikKidul) menjadi Karacenan dan Kedayungan (Gegesik Wetan) ; Ketembolan (Gegesik Lor) menjadi Ketembolan dan Kecawetan (Gegesik Kulon). Sebutan tersebut menunjukan ciri-ciri pemimpin dan rakyat dari masing-masing desa sebagai berikut. Gegesik Kidul/Keradenan pemimpinnya bersifat keningratan, rakyatnya suka/pandai mengarang kata-kata(nganggit omongan). Pimpinan Gegesik Wetan/kedayungan menonjol dalam hal baik maupun buruk, rakyatnya suka beramai-ramai tanpa isi. Gegesik Lor/ketembolan pemimpinnya ditaati bawahan, rakyat senatiasa menggerutu dibelakang; sedangkan Gegesik Kulon/kecawetan pemimpinya disiplin,rakyatnya senantiasa menyerah tanpa bekas. 


Adapun nama-nama kuwu yang pernah menjabat di gegesikkulon sampai sekarang  adalah:

1
Ki sangling
Masa jabatan
Tahun
………..
s/d
1904
2
Ki sangid
Masa jabatan
Tahun
1904
s/d
1920
3
Ki kunan
Masa jabatan
Tahun
1920
s/d
1928
4
Ki  Sujana
Masa jabatan
Tahun
1928
s/d
1931
5
H.Tarjan
Masa jabatan
Tahun
1931
s/d
1937
6
H. Tahir
Masa jabatan
Tahun
1937
s/d
1938
7
Ki.Anas
Masa jabatan
Tahun
1938
s/d
1967
8
Ki Dulbadi
Masa jabatan
Tahun
1967
s/d
1970
9
Ki.Karta sujana
Masa jabatan
Tahun
1971
s/d
1985
10
Ki Tamin Taryono
Masa jabatan
Tahun
1986
s/d
1994
11
Bpk. Supriyadi
Masa jabatan
Tahun
1994
s/d
1998
12
Bpk. Sukardi
Masa jabatan
Tahun
2001
s/d
2002
13
Ibu Elin yustiani
Masa jabatan
Tahun
2003
s/d
2013
14
Bpk.Gatot Sutrisno
Masa jabatan
Tahun
2016
s/d
sekarang



Share:

Senin, 28 Maret 2016

profil desa


Description: http://prodeskel.binapemdes.kemendagri.go.id/_lib/img/grp__NM__laporan_depdagrilogo.png
KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA
DATA POKOK DESA/KELURAHAN
Tahun
2015
Kode Desa (PUM)
3209282006
Desa/Kelurahan
GEGESIK KULON
Kecamatan
GEGESIK
Kabupaten/Kota
KABUPATEN CIREBON
Provinsi
JAWA BARAT
Tahun Pembentukan
1904
Luas Desa/Kelurahan (Ha)
402,000000
Penetapan Batas
Ada
Dasar Hukum Perdes No .
01 tahun 2011
Dasar Hukum Perda No.
16 tahun 1981
Peta Wilayah
Ada
Koordinat
108.42827 BT / -6.593224 LS
T i p o l o g i
PERSAWAHAN
K l a s i f i k a s i
SWASEMBADA
K a t e g o r i
MULA
Batas Wilayah :
a. Desa/Kelurahan Sebelah Utara
Gegesikwetan, Jagapura Wetan
b. Desa/Kelurahan Sebelah Selatan
Gegesiklor, Gegesikkidul
c. Desa/Kelurahan Sebelah Timur
Gegesiklor,Gegesikkidul
d. Desa/Kelurahan Sebelah Barat
Gegesikkidul,Gegesikwetan

A. PERSONIL
1. Kepala Desa/Lurah
-- Nama
IIS ISKANDAR
-- Pangkat/Golongan
Pelaksana
-- NIP
19710514 200906 1 003
-- Pendidikan Terakhir
Sarjana
-- Pelatihan yang pernah diikuti
Diklat Peningkatan Kompetensi
-- Jenis Kelamin
Laki-Laki

2. Sekretaris Desa/Kelurahan
-- Nama
IIS ISKANDAR
-- Pangkat/Golongan
Pelaksan
-- NIP
19710514 200906 1 003
-- Pendidikan Terakhir
DIPL
-- Pelatihan yang pernah diikuti
Diklat Prodeskel
-- Jenis Kelamin
Laki-Laki

3. Badan Permusyawaratan Desa
-- Nama
Rahmat
-- Pendidikan Terakhir
SLTA
-- Pelatihan yang pernah diikuti

-- Jenis Kelamin
Laki-Laki

B. DATA UMUM
1. Tataguna Lahan dan Produksi
a. Tataguna Lahan
-- Sawah (Ha)
111,1110
-- Tegal/Ladang (Ha)
0,0000
-- Pemukiman (Ha)
189,2940
-- Pekarangan (Ha)
39,0000
-- Tanah Rawa (Ha)
0,0000
-- Pasang Surut (Ha)
0,0000
-- Lahan Gambut (Ha)
0,0000
-- Situ/Waduk/Danau (Ha)
0,0000
-- Perkebunan (Ha)
0,0000
-- Tanah Kas Desa (Ha)
56,3000
-- Fasilitas Umum (Ha)
6,2950
-- H u t a n (Ha)
0,0000
-- Jumlah Luas Wilayah (Ha)
402,0000

b. Produksi
b.1. Total Nilai Produksi Pangan (Rp)
0,00
----- Komoditas Unggulan Berdasarkan Luas Panen
Padi sawah
----- Komoditas Unggulan Berdasarkan Nilai Produksi
Padi sawah
b.2. Total Nilai Produksi Perkebunan (Rp)
----- Komoditas Unggulan Berdasarkan Luas Panen
----- Komoditas Unggulan Berdasarkan Nilai Produksi
b.3. Total Nilai Produksi Perikanan (Rp)
----- Komoditas Unggulan Berdasarkan Produktivitas
----- Komoditas Unggulan Berdasarkan Nilai Produksi
b.4. Total Nilai Produksi Hasil Peternakan (Rp)
----- Komoditas Unggulan Berdasarkan Nilai Produksi
----- Komoditas Unggulan Berdasarkan Populasi Ternak
----- Komoditas Unggulan Berdasarkan Jumlah Peternak
b.5. Total Hasil Produksi Buah-Buahan (Ton)
0,00
----- Komoditas Unggulan Berdasarkan Luas Panen
Mangga
----- Komoditas Unggulan Berdasarkan Produktivitas
Mangga
b.6. Total Hasil Produksi Apotik Hidup (Ton)
----- Komoditas Unggulan Berdasarkan Luas Panen
----- Komoditas Unggulan Berdasarkan Produktivitas
b.7. Komoditas Unggulan Hasil Hutan

2. Rawan Bencana dan Orbitasi
a. Rawan Bencana
-- Desa/Kelurahan Rawan Banjir (Ha)
0,0000
-- Desa/Kelurahan Potensial Tsunami (Ha)
0,0000
-- Desa/Kelurahan Rawan Jalur Gempa (Ha)
0,0000

b. Orbitasi
-- Jarak Ke Ibu Kota Kecamatan (Km)
1,0000
-- Waktu Tempuh dengan Kendaraan Bermotor (Jam)
0,00
-- Waktu Tempuh dengan Berjalan Kaki/Kendaraan Non Bermotor (Jam)
0,00
-- Kendaraan Umum Ke Ibu Kota Kecamatan (Unit)
2
-- Jarak Ke Ibu Kota Kabupaten/Kota (Km)
30,0000
-- Waktu Tempuh dengan Kendaraan Bermotor (Jam)
1,00
-- Waktu Tempuh dengan Berjalan Kaki/Kendaraan Non Bermotor (Jam)
0,00
-- Kendaraan Umum Ke Ibu Kota Kabupaten/Kota (Unit)
2
-- Jarak Ke Ibu Kota Provinsi (Km)
125,0000
-- Waktu Tempuh dengan Kendaraan Bermotor (Jam)
4,00
-- Waktu Tempuh dengan Berjalan Kaki/Kendaraan Non Bermotor (Jam)
0,00
-- Kendaraan Umum Ke Ibu Kota Provinsi (Unit)
2

3. Penduduk dan Kepala Keluarga
a. Jumlah Penduduk
Jumlah Laki-Laki (orang)
2.997
Jumlah Perempuan (orang)
2.876
Jumlah Total (orang)
5.873
Jumlah Kepala Keluarga (KK)
1.995
Kepadatan Penduduk (Jiwa/KM2)
1.460
b. Komposisi Usia Penduduk
Laki-Laki
Usia 0 - 6 Tahun
369
Usia 7 - 12 Tahun
307
Usia 13 - 18 Tahun
418
Usia 19 - 25 Tahun
424
Usia 26 - 40 Tahun
581
Usia 41 - 55 Tahun
422
Usia 56 - 65 Tahun
250
Usia 65 - 75 Tahun
225
Usia > 75 Tahun
11
Jumlah Laki-Laki (Orang)
2.996
Perempuan
Usia 0 - 6 Tahun
356
Usia 7 - 12 Tahun
292
Usia 13 - 18 Tahun
340
Usia 19 - 25 Tahun
288
Usia 26 - 40 Tahun
573
Usia 41 - 55 Tahun
485
Usia 56 - 65 Tahun
300
Usia 65 - 75 Tahun
236
Usia > 75 Tahun
12
Jumlah Perempuan (Orang)
2.870
c. Kesejahteraan Keluarga
Keluarga Prasejahtera (KK)
814
Keluarga Sejahtera 1 (KK)
806
Keluarga Sejahtera 2 (KK)
227
Keluarga Sejahtera 3 (KK)
118
Keluarga Sejahtera 3+ (KK)
30
Jumlah Kepala Keluarga
1.995

4. Pekerjaan/Mata Pencaharian
Jenis Pekerjaan
Laki-Laki (orang)
Perempuan (orang)
Jumlah (Orang)
Petani
460
410
870
Buruh Tani
920
750
1.670
Pegawai Negeri Sipil
270
187
457
Pengrajin
4
520
524
Peternak
143
56
199
Montir
12
0
12
Dokter swasta
1
0
1
Perawat swasta
1
1
2
Bidan swasta
0
2
2
TNI
6
0
6
POLRI
1
0
1
Pengusaha kecil, menengah dan besar
127
62
189
Seniman/artis
216
35
251
Pedagang Keliling
519
67
586
Pembantu rumah tangga
72
296
368
Arsitektur/Desainer
1
0
1
Karyawan Perusahaan Swasta
412
497
909
Purnawirawan/Pensiunan
19
12
31
Perangkat Desa
12
2
14
Jumlah Total (Orang)
3.196
2.897
6.093

5. Pendidikan dan Kesehatan
a. Rasio Murid dan Guru
Kategori
Tingkatan/Jenis Sekolah
Jumlah Pengajar
Jumlah Siswa
Rasio
Sekolah Formal
TK
10
80
8

SD
5
100
20

SMP
15
1.200
80
Jumlah Total
30
1.380

b. Sarana Kesehatan
Jenis Sarana Kesehatan
Jumlah (Unit/Orang}
Bidan
2
Perawat
1

6. Tingkat Pendidikan Masyarakat
Tingkatan Pendidikan
Laki-Laki (orang)
Perempuan (orang)
Jumlah (Orang)
Tamat SD/sederajat
872
697
1.569
Tamat SMA/sederajat
532
396
928
Tamat S-1/sederajat
179
212
391
Jumlah Total (Orang)
1.583
1.305
2.888

7. Sarana dan Prasarana
a. Kantor Desa/Kelurahan
- Gedung Kantor
Ada
- Kondisi
Baik
- Balai Desa/Kelurahan/Sejenisnya
Ada
- Listrik
Ada
- Air Bersih
Ada
- Telepon
Ada
b. Kesehatan
Jenis Prasarana Kesehatan
Jumlah (Unit)
Puskesmas pembantu
2
Posyandu
5
Jumlah Total (Unit)
7
c. Pendidikan
Jenis Gedung
Sewa (Gedung)
Milik Sendiri (Gedung)
Jumlah (Gedung)
Gedung SMP/sederajat
1
0
1
Gedung SD/sederajat
0
3
3
Gedung TK
0
2
2
Gedung Tempat Bermain Anak
0
1
1
Lembaga Pendidikan Agama
0
3
3
Jumlah Total (Gedung)
1
9
10
d. Peribadatan
Jenis Tempat Ibadah
Jumlah
Masjid
3
Langgar/Surau/Mushola
15
Jumlah Total
18
e. Transportasi
Jenis Sarana/Prasarana
Kondisi Baik (Km/Unit)
Kondisi Rusak (Km/Unit)
Jumlah (Km/Unit)
1. Jalan Desa/Kelurahan
1,00
3,00
4,00
Jalan Desa/Kelurahan (Aspal)
1,00
4,00
5,00
Jalan Desa/Kelurahan (Makadam)
1,00
3,00
4,00
Jalan Desa/Kelurahan (Tanah)
0,00
8,00
8,00
Jalan Desa/Kelurahan (Sirtu)
1,00
6,00
7,00
Jalan Desa/Kelurahan (Konblok/Beton)
1,00
4,00
5,00
2. Jalan antar Desa/Kelurahan/Kecamatan
1,00
1,00
2,00
Jalan antar Desa/Kelurahan/Kecamatan (Aspal)
1,00
3,00
4,00
3. Jalan Kabupaten yang melewati Desa/Kelurahan
1,00
6,00
7,00
4. Jalan Provinsi yang melewati Desa/Kelurahan
1,00
6,00
7,00
f. Air Bersih
Sumur Pompa (Unit)
47
Sumur Gali (Unit)
966
Hidran Umum (Unit)
0
Penampung Air Hujan (Unit)
264
Tangki Air Bersih (Unit)
0
Embung (Unit)
0
Mata Air (Unit)
0
Bangunan Pengolahan Air (Unit)
0
g. Irigasi
Panjang Saluran Primer (M)
4.000,00
Panjang Saluran Sekunder (M)
4.000,00
Panjang Saluran Tersier (M)
16.000,00
Pintu Sadap (Unit)
5,00
Pintu Pembagi Air (Unit)
20,00
h. Sanitasi
Sumur Resapan Air Rumah Tangga (Rumah)
1.500
MCK Umum (Unit)
387
Jamban Keluarga (KK)
1.117
Saluran Drainase/Saluran Pembuangan Air Limbah
Ada
Kondisi Saluran Drainase/Saluran
Tidak Ada
i. Olah Raga
Jenis Prasarana Olah Raga
Jumlah (Unit/Gedung/Lokasi)
Lapangan bulu tangkis
1
Meja pingpong
2
Lapangan voli
1

C. KEUANGAN
Pemasukan Anggaran
- APBD Kabupaten/Kota (Rp)
0
- Bantuan Pemerintah Kabupaten/Kota (Rp)
0
- Bantuan Pemerintah Provinsi (Rp)
115.000.000
- Bantuan Pemerintah Pusat (Rp)
216.237.979
- Pendapatan Asli Desa (Rp)
827.320.000
- Swadaya Masyarakat Desa dan Kelurahan (Rp)
0
- Alokasi Dana Desa (Rp)
369.063.908
- Sumber Pendapatan dari Perusahaan yang ada di desa/kelurahan (Rp)
0
- Sumber pendapatan lain yang sah dan tidakmengikat (Rp)
0
Jumlah Penerimaan Desa/Kelurahan tahun ini (Rp)
1.527.621.887

Pengeluaran Anggaran
- Jumlah Belanja Publik/belanja pembangunan (Rp)
858.501.887
- Jumlah Belanja Aparatur/pegawai (Rp)
669.120.000
Jumlah Belanja (Rp)
1.527.621.887

Saldo Anggaran
Saldo Anggaran (Rp)
0

D. KELEMBAGAAN
a. Lembaga Kemasyarakatan
Jenis Lembaga
Jumlah
Pengurus (orang)
Jenis Kegiatan
LPMD/LPMK ATAU SEBUTAN LAIN
1
12
2
PKK
1
10
2
RUKUN WARGA
12
12
1
RUKUN TETANGGA
44
44
1
KARANG TARUNA
1
12
2
KELOMPOK TANI/NELAYAN
4
16
1
BADAN USAHA MILIK DESA
1
4
1
ORGANISASI KEAGAMAAN
1
6
3
YAYASAN
2
10
2
Jumlah Total
67
126
15
b. Lembaga Adat
Pemangku Adat
Tidak Ada
Kepengurusan Adat
Tidak Ada
Rumah Adat
Tidak Ada
Barang Pusaka
Ada
Naskah-Naskah
Tidak Ada
Lainnya
Tidak Ada

E. KEAMANAN DAN KETERTIBAN
Jumlah Anggota Hansip (Orang)
16
Jumlah Anggota Satgas Linmas (Orang)
16
Jumlah Pos Kamling (Buah)
10
Konflik SARA (Kasus)
0
Perkelahian Massal (Kasus)
3
Penyerobotan Tanah/Penjarahan (Kasus)
0
Pembunuhan (Kasus)
0
Pencurian/Perampokan (Kasus)
5
Mabuk akibat Narkoba (Kasus)
0
Meninggal akibat Narkoba (Kasus)
0
Lokalisasi Prostitusi (Lokasi)
0










Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support